SURABAYA – Dalam upaya memperkuat struktur ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian rantai pasok pangan global, Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama komunitas gastronomi Indonesia menggelar Festival Pangan Berkelanjutan. Acara yang berpusat di kompleks sentra kuliner daerah ini tidak hanya menyajikan ragam cita rasa tradisional yang menggugah selera, tetapi juga mengemban misi edukasi penting mengenai diversifikasi pangan berbasis non-beras dan optimalisasi hilirisasi pangan lokal secara berkelanjutan di era modern.
Puluhan stan kuliner dari berbagai daerah menampilkan kreativitas para koki papan atas dalam mengolah bahan baku alternatif seperti sorgum, singkong, talas, dan sagu menjadi hidangan kelas dunia yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta cita rasa modern yang disukai generasi muda. Langkah strategis ini sejalan dengan program jangka panjang pemerintah untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada konsumsi komoditas gandum impor yang rentan terhadap fluktuasi harga pasar internasional dan gangguan geopolitik dunia yang berimbas pada jalur logistik laut internasional.
Salah satu daya tarik utama dalam festival ini adalah demonstrasi pengolahan menu kuliner sehat rendah glikemik yang memanfaatkan komoditas pangan lokal organik hasil budidaya petani daerah setempat. Para pakar nutrisi yang hadir sebagai pembicara dalam gelar wicara menekankan bahwa kembali ke pola konsumsi pangan lokal bukan berarti mengalami kemunduran kualitas hidup, melainkan sebuah gaya hidup modern yang terbukti lebih sehat bagi tubuh dan ramah terhadap kelestarian lingkungan hidup karena menekan jejak karbon distribusi pangan antarnegara.
Selain memanjakan lidah para pengunjung yang memadati lokasi sejak pagi hari, festival ini juga menjadi jembatan bisnis (business matching) yang mempertemukan langsung kelompok petani lokal pembudidaya komoditas alternatif dengan para pelaku industri kuliner skala makro, perhotelan, dan jaringan restoran modern. Melalui kontrak kerja sama pasokan bahan baku secara langsung, diharapkan tingkat kesejahteraan para petani di daerah dapat terdongkrak secara signifikan tanpa harus melalui rantai tengkulak yang panjang dan merugikan margin keuntungan para petani di tingkat hulu.
Kesuksesan penyelenggaraan festival kuliner ini membuktikan bahwa gastronomi Nusantara memiliki fleksibilitas dan potensi inovasi yang sangat masif untuk dikembangkan lebih jauh ke tingkat global. Dengan manajemen hilirisasi yang tepat dari hulu ke hilir serta promosi yang konsisten di tingkat nasional maupun internasional, kuliner berbasis pangan berkelanjutan ini siap menjadi pilar baru yang menopang kedaulatan ekonomi dan ketahanan pangan nasional secara mandiri dalam menghadapi tantangan krisis pangan global di masa depan.
Pemerintah juga berencana mengintegrasikan konsep pangan berkelanjutan ini ke dalam program bantuan sosial dan pemenuhan gizi anak sekolah di berbagai wilayah percontohan. Dengan mengenalkan cita rasa pangan lokal non-beras sejak dini, diharapkan struktur konsumsi pangan masyarakat di masa depan dapat menjadi lebih seimbang dan tidak bertumpu pada satu jenis komoditas pokok saja. Langkah ini diyakini akan memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi agraris masing-masing daerah di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Pengembangan UMKM berbasis olahan pangan lokal juga mendapatkan kucuran insentif modal dari perbankan daerah yang bekerja sama dalam festival ini. Para pelaku usaha mikro diberikan pelatihan pengemasan produk (packaging) berstandar ekspor agar produk camilan berbasis sorgum dan talas mampu bersaing di pasar swalayan luar negeri. Sinergi ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru di sektor industri kreatif kuliner lokal yang ramah lingkungan.
Pada sesi penutupan festival, diberikan penghargaan kepada inovasi menu terbaik yang berhasil mentransformasi bahan pangan singkong menjadi hidangan penutup (dessert) mewah ala restoran bintang lima. Hal ini membuktikan bahwa dengan sentuhan kreativitas dan keahlian teknik memasak yang tepat, bahan pangan lokal yang dulunya dianggap inferior dapat naik kelas dan memiliki nilai jual yang sangat kompetitif di industri kuliner internasional.

