Mamuju – Bencana tanah longsor yang melanda wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, menjadi sorotan nasional setelah menewaskan empat orang warga. Peristiwa tragis ini terjadi setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut selama berjam-jam, menyebabkan tanah di area perbukitan menjadi labil dan akhirnya longsor menimpa permukiman warga.
Longsor terjadi pada Minggu malam, 26 Januari 2025, sekitar pukul 23.15 WITA, di Dusun Tamasapi, Kelurahan Mamunyu, Kecamatan Mamuju. Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamuju, material tanah dan bebatuan dari lereng bukit tiba-tiba meluncur deras ke area permukiman dan menimbun sedikitnya dua rumah warga.
Hujan deras diketahui mulai mengguyur wilayah Mamuju sejak sore hari sekitar pukul 15.30 WITA dan berlangsung hingga hampir tengah malam. Curah hujan yang tinggi dalam durasi cukup lama menyebabkan kondisi tanah menjadi jenuh air. Lereng yang berada di dekat pemukiman akhirnya tidak mampu menahan beban air dan tanah, sehingga memicu longsor yang datang secara mendadak.
Warga sekitar mengaku tidak sempat menyelamatkan diri karena kejadian berlangsung sangat cepat. Suara gemuruh dari arah bukit terdengar sesaat sebelum material longsor menghantam rumah-rumah di bawahnya. Kepanikan langsung terjadi di tengah malam, ketika sebagian besar warga sedang beristirahat.
Empat korban yang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut diketahui merupakan satu keluarga. Korban terdiri dari Nasrul (40), Nurlela (24), Aisyah (4), serta seorang bayi berusia satu bulan. Seluruh korban ditemukan setelah proses evakuasi yang dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, dan warga setempat.
Selain korban jiwa, sedikitnya empat orang lainnya mengalami luka berat akibat tertimpa material longsor dan puing bangunan. Para korban luka segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Proses evakuasi berlangsung dramatis karena tim penyelamat harus bekerja di tengah kondisi medan yang sulit, gelap, serta tanah yang masih labil. Alat berat juga dikerahkan untuk membantu membersihkan timbunan material yang menutup akses ke rumah warga. Warga sekitar turut membantu pencarian korban dengan peralatan seadanya sambil menunggu bantuan tambahan datang ke lokasi.
Pemerintah daerah bersama BPBD langsung menetapkan langkah tanggap darurat untuk mempercepat penanganan bencana. Fokus utama saat itu adalah evakuasi korban, penanganan warga terdampak, serta memastikan tidak ada longsor susulan yang dapat membahayakan masyarakat di sekitar lokasi.
Bencana ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah dan fasilitas warga. Beberapa akses jalan di sekitar lokasi sempat tertutup material tanah dan batu, sehingga menghambat mobilitas tim penyelamat serta warga yang ingin mengungsi.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat kemudian bergerak cepat dengan berkoordinasi bersama pemerintah kabupaten untuk menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak. Bantuan berupa makanan siap saji, selimut, kebutuhan bayi, dan perlengkapan darurat mulai disalurkan ke lokasi bencana.
Kementerian Sosial juga mengirimkan bantuan tambahan melalui tim Tagana guna mendukung proses evakuasi dan pemulihan pascabencana. Kehadiran tim relawan dinilai sangat membantu, terutama untuk penanganan pengungsi dan distribusi bantuan.
Peristiwa longsor di Mamuju ini juga menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana hidrometeorologi selama musim hujan. Kawasan dengan kontur perbukitan seperti Mamuju memang rentan mengalami longsor, terutama ketika hujan turun dalam intensitas tinggi selama beberapa jam.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengingatkan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Sulawesi Barat, termasuk hujan lebat yang dapat memicu banjir dan longsor. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di lereng bukit maupun dekat tebing diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan berlangsung lama.
Para pengamat kebencanaan juga menilai pentingnya mitigasi jangka panjang, seperti penguatan lereng, penghijauan kawasan perbukitan, serta penataan permukiman di zona rawan longsor. Langkah-langkah ini dianggap penting untuk mengurangi risiko korban jiwa pada kejadian serupa di masa mendatang.
Tragedi longsor di Mamuju yang menewaskan empat orang ini meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Selain kehilangan anggota keluarga, warga juga harus menghadapi kerusakan rumah dan ancaman longsor susulan selama musim hujan masih berlangsung.
Pemerintah mengimbau masyarakat agar selalu mengikuti informasi resmi dari BPBD dan BMKG, serta segera mengungsi apabila terlihat tanda-tanda pergerakan tanah seperti retakan di lereng, suara gemuruh dari bukit, atau aliran air yang berubah keruh secara tiba-tiba.

