ASTANA, KAZAKHSTAN – Panggung dunia kompetitif Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) kembali menjadi saksi keperkasaan tim asal Indonesia. Dalam lanjutan turnamen antarinternasional bergengsi Games of the Future (GOTF) 2026, ONIC Esports berhasil mengamankan kemenangan mutlak dengan skor 2-0 atas perwakilan kuat asal China, DianFengYaoGuai (DFYG). Pertandingan babak Quarterfinals (Perempat Final) yang berlangsung pada Jumat, 7 Agustus 2026 di Zhaksylyk Ushkempirov Martial Arts Palace, Astana, Kazakhstan, menyajikan tontonan kelas tinggi yang mempertemukan disiplin makro tim Indonesia dengan agresivitas mekanik tim tirai bambu.
Melalui format pertandingan Best of 3 (Bo3), skuad berjuluk Sang Landak Kuning tampil sangat dominan sejak menit pertama. Kemenangan bersih tanpa balas ini tidak hanya memantapkan posisi mereka sebagai salah satu kandidat kuat juara, tetapi juga secara resmi mengunci tiket menuju babak Semifinal. Sementara itu, kekalahan ini memaksa langkah DianFengYaoGuai terhenti di turnamen Phygital internasional ini.
Analisis Game Pertama: Eksekusi Sempurna Formula Eudora SANZ
Sejak sesi penyerapan draf pahlawan (draft pick), ONIC Esports menunjukkan kesiapan strategi yang matang untuk meredam pergerakan agresif DFYG. Tim asuhan jajaran kepelatihan ONIC menurunkan komposisi pahlawan yang solid: Marcel (Kiboy) menggunakan Barats, Lutpiii mengamankan Terizla di lini depan, Kairi mengendalikan Nolan sebagai ujung tombak serangan, SANZ secara mengejutkan memilih Eudora, dan Kelra mengisi posisi emas sebagai Brody. Di sisi seberang, DFYG mencoba mengimbangi dengan mengandalkan sinergi crowd control intensitas tinggi dan mobilitas lini tengah untuk membongkar pertahanan ONIC.
Pada menit-menit awal (early game), pertandingan berjalan cukup berimbang dengan kedua tim saling bertukar serangan di area sungai. DFYG mencoba mengambil inisiatif serangan dengan melakukan pengawalan ketat terhadap purple buff milik Kairi menggunakan bantuan dari pahlawan pelindung mereka. Namun, kedisiplinan tingkat tinggi yang ditunjukkan oleh Kiboy dan Lutpiii mampu menciptakan ruang bagi Kairi untuk tetap melakukan rotasi pertanian (farming) dengan aman.
Titik balik pertama terjadi saat perebutan monster objektif Turtle pertama. DFYG mencoba melakukan inisiasi menggunakan taktik Shifting Skies demi membalikkan keadaan di area luar. Sayangnya, eksekusi DFYG yang terlalu memaksakan keadaan (overextend) langsung dihukum dengan instan oleh kombinasi serangan instan (burst damage) dari Eudora milik SANZ. Efek kejut dari petir Eudora membuat lini belakang DFYG compang-camping dalam sekejap, memberikan keunggulan eliminasi pertama (first blood) serta kontrol ekonomi penuh bagi ONIC Esports.
Memasuki fase pertengahan laga (mid game), ONIC Esports memperlebar jarak keunggulan dengan melakukan invasi area hutan lawan secara sistematis. Pergerakan Kairi yang sangat lincah menggunakan Nolan membuat lini pertahanan DFYG kewalahan menjaga visi peta (map vision). Eksekusi objektif yang rapi serta eksekusi Lord pertama yang tanpa hambatan membuat Sang Landak Kuning berhasil meruntuhkan seluruh menara pertahanan luar (outer turret) milik tim China tersebut. Game pertama akhirnya diselesaikan dengan cepat pada menit belasan setelah tekanan serentak di semua lini tidak mampu dibendung lagi oleh DFYG. ONIC unggul sementara dengan skor 1-0.
Analisis Game Dari Pengalaman: Pembalikan Keadaan Spektakuler Kelra di Game Kedua
Memasuki game kedua, DianFengYaoGuai mencoba bangkit dengan mengubah strategi draf mereka secara radikal. Bertekad untuk memperpanjang napas ke game ketiga, tim perwakilan China tersebut bermain jauh lebih agresif di fase early game. Mereka sukses mengamankan Turtle pertama dan secara berkala mendikte jalannya pertempuran kecil di lini samping. DFYG bahkan sempat memimpin dari segi jumlah pundi-pundi emas dan poin eliminasi, membuat para penggemar di arena bersorak mengantisipasi adanya kejutan besar.
Pada fase ini, pencinta esports disuguhkan oleh ujian mental yang sesungguhnya bagi tim ONIC. Di bawah tekanan hebat, Kelra yang menggunakan pahlawan Granger sempat terjepit dengan catatan performa awal 0 poin eliminasi dan 1 kematian (0-1). Walau demikian, faktor pengalaman berbicara lantang di atas panggung internasional Astana. Alih-alih panik karena tertinggal ekonomi, para pemain ONIC memperlihatkan kesabaran luar biasa dalam mempertahankan area pertahanan mereka.
Momen krusial yang merubah takdir game kedua terjadi di area sarang Lord. DFYG yang merasa di atas angin mencoba memulai inisiasi Lord tanpa melakukan zonasi (zoning) yang bersih terhadap pergerakan Kairi. Dengan ketenangan tingkat tinggi, Kairi berhasil melakukan pencurian Lord yang spektakuler menggunakan kombinasi eksekusi instan, memotong momentum emas yang sedang dibangun oleh tim lawan. Kehilangan objektif penting tersebut membuat koordinasi tim DFYG goyah secara drastis.
ONIC Esports tidak menyia-nyiakan keretakan formasi tersebut. Kiboy langsung melakukan inisiasi balik yang membuka ruang sangat lebar bagi Kelra untuk melepaskan seluruh daya serang terbaiknya. Melalui skenario Lord dance yang diorkestrasi dengan sangat indah oleh ONIC, satu per satu pemain DFYG bertumbangan. Kelra yang awalnya tertekan, mengamuk di fase akhir pertandingan (late game) hingga mencatatkan statistik akhir yang luar biasa, yakni 9 poin eliminasi, 2 kematian, dan 3 umpan skor (9-2-3).
Serangan balik terakhir dari ONIC di lini bawah merangsek masuk ke dalam jantung pertahanan lawan tanpa bisa dihentikan kembali. Dengan menyisakan satu pemain bertahan dari DFYG yang tak berdaya menghadapi gempuran lima pahlawan ONIC, Sang Raja Langit secara resmi menghancurkan kristal utama lawan dan menyapu bersih pertandingan dengan skor mutlak 2-0.
Langkah Berikutnya: Tantangan Klasik Melawan Selangor Red Giants
Keberhasilan menumbangkan DianFengYaoGuai dengan skor telak 2-0 ini mempertegas posisi dominan Indonesia di skena profesional Mobile Legends. Walaupun sempat mendapatkan perlawanan sengit di game kedua, kedewasaan taktik serta kemampuan eksekusi makro dalam situasi tertekan menjadi kunci utama keberhasilan tim berlogo landak tersebut.
Namun, euforia kemenangan di babak perempat final ini tidak bisa bertahan terlalu lama. Berdasarkan bagan turnamen resmi dari pihak panitia Phygital+, ONIC Esports dijadwalkan langsung berhadapan dengan raksasa Malaysia, Selangor Red Giants (SRG), di babak Semifinal yang digelar pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pertemuan ini diprediksi menjadi laga sarat gengsi dan tensi tinggi, mengingat rekam jejak rivalitas panas kedua tim di berbagai turnamen internasional sebelumnya.
Di sisi lain, kemenangan ONIC pada 7 Agustus ini juga melengkapi kesuksesan perwakilan Indonesia lainnya, Bigetron by Vitality, yang juga berhasil melaju ke Semifinal setelah mengalahkan PRO Esports. Skenario besar mengenai terciptanya All-Indonesian Final di tanah Kazakhstan kini semakin mendekati kenyataan, membuktikan bahwa taring kekuatan Garuda di kancah industri esports dunia masih belum meredup sama sekali.

