Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah Dipusatkan di Boyolali: Sederhana Penuh Makna, 4.500 Porsi Kuliner Khas Dibagikan Gratis

Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah Dipusatkan di Boyolali: Sederhana Penuh Makna, 4.500 Porsi Kuliner Khas Dibagikan Gratis

BOYOLALI — Rabu, 19 Agustus 2026, menjadi hari yang tak terlupakan bagi warga Kabupaten Boyolali dan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya. Alun-alun Kidul Boyolali yang tampak bersih dan tertata rapi sejak pagi, menjadi saksi berlangsungnya puncak peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah. Berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya yang tampak lebih meriah dan penuh kemegahan, peringatan kali ini sengaja digelar secara sederhana. Hal itu bukan tanpa alasan — kesederhanaan ini merupakan wujud belasungkawa dan keprihatinan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas musibah gempa bumi yang melanda saudara-saudara kita di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu sebelumnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, selaku inspektur upacara, memimpin langsung jalannya peringatan. Di hadapan para pejabat, tokoh masyarakat, perwakilan pelajar, petani, pelaku UMKM, dan warga yang hadir, Gubernur Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa kesederhanaan dalam peringatan kali ini adalah bentuk kepedulian Jawa Tengah terhadap penderitaan yang dialami saudara-saudara di NTT. “Upacara peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah kali ini kita laksanakan kegiatan-kegiatan yang sederhana, semata-mata untuk ikut berbelasungkawa serta mendoakan saudara-saudara kita di NTT,” ujar Gubernur Ahmad Luthfi sebelum memimpin doa bersama bagi warga NTT yang terdampak bencana. Doa tersebut dipanjatkan agar mereka senantiasa diberikan ketabahan, kekuatan, dan segera pulih dari segala kesulitan yang dihadapi.

Peringatan bertema “Gumregut Nyawiji” — yang berarti bersatu padu, bergotong royong membangun bersama — ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat secara luas. Terlihat hadir Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, para mantan Gubernur Jawa Tengah, di antaranya Bibit Waluyo, serta tokoh masyarakat, pimpinan instansi vertikal, dan ribuan warga yang datang dengan penuh semangat. Kehadiran beragam lapisan masyarakat ini menunjukkan bahwa momentum Hari Jadi bukan sekadar seremonial pemerintahan, melainkan milik seluruh rakyat Jawa Tengah.

Dalam penyampaiannya, Gubernur Ahmad Luthfi juga melaporkan berbagai capaian pembangunan yang telah diraih selama 545 hari masa kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Taj Yasin. Sektor ekonomi, ketahanan pangan, pendidikan, hingga kesehatan menjadi fokus utama yang dipaparkan. Secara khusus, Gubernur menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para petani, buruh, pelaku UMKM, guru, tenaga kesehatan, pemuda, hingga penyandang disabilitas. Menurutnya, kemajuan yang diraih Jawa Tengah tidak lepas dari peran serta seluruh elemen masyarakat yang bekerja tekun dan saling mendukung. “Ini sudah 545 hari menemani panjenengan sedoyo. Saya dengan Gus Yasin untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi Jawa Tengah,” tegas Gubernur Luthfi disambut tepuk tangan warga.

Mantan Gubernur Jawa Tengah periode 2008–2013, Bibit Waluyo, turut menyampaikan harapannya di usia ke-81 provinsi ini. Beliau menekankan bahwa Jawa Tengah harus menjadi penyangga ketahanan ekonomi nasional, dan kekuatan utamanya terletak pada sektor agraris. “Jawa Tengah harus kuat ekonominya, sebagai penyangga ketahanan nasional, maka masyarakat Jawa Tengah harus mempeng (tekun) bekerja, bertani, bercocok tanam untuk kesejahteraan keluarga dan bangsa,” ujar Bibit Waluyo. Pernyataan ini sejalan dengan semangat gotong royong yang diusung dalam tema peringatan tahun ini — bahwa kemajuan yang berkelanjutan hanya dapat diwujudkan melalui kerja bersama dan kesatuan tujuan antara pemerintah dan rakyat.

Salah satu hal yang paling dinantikan ribuan warga yang memadati Alun-alun Kidul Boyolali pada hari itu adalah pembagian kuliner khas secara gratis. Panitia telah menyiapkan sebanyak 4.500 porsi makanan tradisional andalan Boyolali, yaitu 2.500 porsi Soto Boyolali dan 2.000 porsi Nasi Tumpang (Sambel Tumpang), yang disajikan cuma-cuma bagi seluruh peserta dan masyarakat yang hadir. Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menjelaskan pemilihan kedua hidangan ini sangat tepat karena Boyolali dikenal luas sebagai “Kota Soto” sekaligus “Kota Sambal Tumpang”. “Boyolali dikenal sebagai Kota Soto dan Kota Sambal Tumpang. Nanti setelah lari, masyarakat dan peserta bisa menikmati sekitar 4.500 porsi soto dan nasi tumpang gratis,” ungkap Sumarno.

Pembagian kuliner gratis ini berlangsung penuh kehangatan. Warga berbaris dengan tertib, menerima semangkuk soto yang hangat berkuah bening dengan isian daging sapi muda dan tauge, serta sepiring nasi tumpang yang bumbunya kaya rempah dan beraroma menggugah selera. Bagi warga Boyolali sendiri, dua makanan ini bukan sekadar santapan pengganjal lapar, melainkan bagian dari identitas dan kebanggaan daerah yang turun-temurun. Dengan membagikannya secara luas pada Hari Jadi, Pemprov Jawa Tengah sekaligus memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan kuliner daerah kepada masyarakat dari berbagai kabupaten dan kota yang hadir.

Selain upacara dan pembagian kuliner, rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah juga dirancang tersebar di beberapa titik agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Beragam kegiatan lain turut menyertai perayaan ini, antara lain Gerakan Pangan Murah, Pameran UMKM, Job Fair, Jateng Run, Jateng Sholawat, serta berbagai hiburan dan kegiatan budaya yang disajikan secara gratis. Dengan begitu, peringatan Hari Jadi tidak hanya menjadi ajang seremonial belaka, melainkan momentum yang benar-benar bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, mendorong perekonomian pelaku usaha mikro kecil dan menengah, serta mempererat tali persaudaraan antarwarga se-Jawa Tengah.

Pemilihan Boyolali sebagai tuan rumah puncak peringatan Hari Jadi ke-81 ini ternyata membawa makna yang mendalam. Terletak di kaki Gunung Merapi, Boyolali dikenal sebagai daerah yang subur, masyarakatnya menjunjung tinggi nilai kesederhanaan, kerajinan, dan kedekatan dengan alam. Semangat inilah yang ingin dikedepankan oleh Pemprov Jawa Tengah di usia ke-81 — kembali ke hakikat pembangunan yang tumbuh dari kerja keras rakyat, kesederhanaan, dan kepedulian sosial. Terbukti, di tengah suasana perayaan yang sederhana itu, terasa kebersamaan yang begitu kuat. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, namun kehadiran ribuan warga yang antusias menunjukkan bahwa persatuan dan kepedulian sesama jauh lebih berharga.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan di hari itu, doa bersama yang dipimpin Gubernur Ahmad Luthfi menjadi penanda bahwa kemajuan materiil harus senantiasa beriringan dengan kepedulian kemanusiaan. Jawa Tengah di usia 81 tahun ini tidak hanya dituntut untuk tumbuh makmur dan sejahtera, tetapi juga harus tumbuh menjadi wilayah yang penuh kasih, peka terhadap penderitaan saudara di mana pun berada, dan tetap bersatu dalam keberagaman. Seperti makna tema “Gumregut Nyawiji” yang digaungkan — biarlah semangat kebersamaan dan gotong royong inilah yang terus menjadi kekuatan utama membangun Jawa Tengah menuju masa depan yang lebih cerah.

administrator

Related Articles