YOGYAKARTA – Dunia akademis dan industri otomotif Indonesia menorehkan tinta emas di panggung internasional melalui pencapaian gemilang Bimasakti Racing Team Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam ajang kompetisi rancang bangun mobil balap bergengsi Formula SAE Italy 2026 yang diselenggarakan di Sirkuit Riccardo Paletti, Varano de’ Melegari, Italia, tim mahasiswa ini sukses memukau dewan juri global lewat mobil balap teranyar mereka yang diberi kode produksi BM-15H yang sarat akan terobosan rekayasa teknologi mutakhir.
Kendaraan balap ini bukan sekadar mobil formula rakitan biasa, melainkan mobil hybrid Formula Student pertama dari Asia Tenggara yang berhasil lolos inspeksi teknis yang sangat ketat dalam kompetisi internasional tersebut. Keunggulan utama BM-15H terletak pada integrasi sistem propulsi ganda yang menggabungkan efisiensi mesin pembakaran internal dengan responsivitas motor listrik instan, ditopang oleh sasis monocoque berbahan serat karbon ringan yang dirancang secara mandiri melalui pemodelan komputer tingkat lanjut demi mencapai aerodinamika maksimal di lintasan balap yang menuntut kelincahan tinggi.
Perjalanan tim Bimasakti di Italia tidaklah mudah dan dipenuhi tantangan teknis yang menguras energi serta kemampuan penyelesaian masalah secara cepat. Mereka harus bersaing ketat dengan ratusan universitas ternama dari benua Eropa dan Amerika yang memiliki dukungan finansial tak terbatas serta fasilitas laboratorium dari korporasi otomotif raksasa kelas dunia. Namun, lewat presentasi business logic, ketahanan uji dinamis (endurance test), serta efisiensi konsumsi energi yang luar biasa, inovasi anak bangsa ini berhasil mengamankan podium terhormat di kategori Best Powertrain Design dan efisiensi bahan bakar alternatif di tingkat internasional yang prestisius.
Kapten tim Bimasakti UGM menyatakan bahwa riset mendalam untuk menyempurnakan teknologi manajemen baterai dan regenerasi energi saat pengereman (regenerative braking) memakan waktu hampir dua tahun penuh di laboratorium kampus. Keberhasilan ini membuktikan bahwa sumber daya manusia Indonesia mampu sejajar, bahkan melampaui standar rekayasa teknologi negara-negara maju di sektor green technology masa depan yang ramah lingkungan dan efisien secara energi dalam skenario industri modern global.
Apresiasi tinggi pun mengalir dari jajaran rektorat UGM dan Kementerian Pendidikan Tinggi atas pencapaian bersejarah ini. Keberhasilan BM-15H di sirkuit Italia ini diharapkan menjadi katalisator bagi akselerasi industri kendaraan listrik dan hybrid nasional, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa riset berbasis universitas dapat diimplementasikan langsung pada ekosistem industri manufaktur global yang sangat kompetitif dan terus berkembang pesat ke arah elektrifikasi total.
Selain keunggulan pada sektor mesin, aspek keselamatan pengemudi juga menjadi sorotan utama yang mendapat pujian dari para penguji Formula SAE. Sistem proteksi dampak samping (side impact structure) dan sistem pemadam kebakaran otomatis yang terintegrasi pada mobil balap BM-15H dinilai melebihi standar keselamatan dasar kompetisi. Inovasi ini membuka peluang kerja sama riset lebih lanjut antara universitas dengan industri manufaktur otomotif global dalam pengembangan standar keselamatan kendaraan masa depan di lintasan sirkuit balap.
Keberhasilan ini juga membuka mata dunia internasional bahwa pusat inovasi rekayasa otomotif di Asia Tenggara kini berkembang pesat di Indonesia. Sponsor-sponsor global mulai melirik potensi kerja sama jangka panjang dengan tim riset mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan komponen ramah lingkungan. Diharapkan, purwarupa BM-15H ini dapat menjadi cetak biru bagi pengembangan kendaraan komersial massal yang efisien dan minim emisi gas rumah kaca di tanah air pada masa mendatang.
Pengembangan lebih lanjut dari proyek ini direncanakan berfokus pada optimasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mengatur distribusi daya secara otomatis berdasarkan karakteristik sirkuit. Tim Bimasakti menargetkan dapat meningkatkan performa akselerasi mobil hingga dua puluh persen pada kompetisi musim berikutnya. Dedikasi tanpa henti dari para mahasiswa ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk meraih prestasi tertinggi di kancah dunia.

