JAKARTA / MAUMERE, NTT — Sabtu, 22 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Nasional dan instansi terkait merilis data terbaru dampak gempa bumi berkekuatan besar yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu. Berdasarkan hasil pendataan yang telah diverifikasi di lapangan, tercatat sebanyak 87 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut. Sementara itu, jumlah warga yang mengalami luka-luka, baik luka ringan maupun berat, tercatat sebanyak 1.298 orang. Angka ini merupakan hasil pendataan yang terus diperbarui seiring petugas semakin menjangkau wilayah-wilayah yang letaknya terpencil dan sulit diakses.
Selain korban jiwa dan luka-luka, ribuan rumah warga dilaporkan rusak berat, roboh, atau tidak layak huni lagi akibat guncangan gempa. Fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, jembatan, dan jalan raya juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap lebih aman dan tinggal di tenda-tenda darurat sambil menunggu kondisi rumah dan lingkungan mereka dipastikan aman untuk ditempati kembali. Kebutuhan mendesak saat ini meliputi makanan bergizi, air bersih, obat-obatan, perlengkapan tidur, pelayanan kesehatan, serta perbaikan tempat tinggal yang aman.
Menyikapi kondisi tersebut, Komite Pengarah Transformasi Digital (Komdigi) segera bergerak menyalurkan bantuan kepada para korban gempa di NTT. Bantuan yang disalurkan berupa bantuan logistik berupa kebutuhan pokok sehari-hari, serta 20 perangkat Starlink guna memulihkan dan memperkuat jaringan komunikasi di wilayah yang terdampak parah. Mengingat gempa juga merusak menara pemancar dan jaringan komunikasi biasa, kehadiran perangkat komunikasi berbasis satelit ini sangat membantu petugas penanggulangan bencana dalam berkoordinasi sekaligus memungkinkan warga menghubungi keluarga mereka yang terpisah.
Pemerintah daerah bersama tim gabungan dari TNI, Polri, relawan, dan instansi terkait terus bekerja keras menyalurkan bantuan ke setiap desa dan kecamatan yang terdampak. Jalan yang rusak dan tertutup reruntuhan menjadi tantangan tersendiri bagi penyaluran bantuan. Namun demikian, semangat gotong royong dan kepedulian sesama membuat segala kesulitan tersebut perlahan dapat diatasi. Bantuan yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia terus mengalir menuju NTT sebagai bukti bahwa bangsa Indonesia adalah satu keluarga besar yang saling merangkul saat salah satunya sedang dalam kesulitan.
Pemerintah juga terus berupaya memulihkan pelayanan kesehatan dan fasilitas umum yang rusak. Tim medis dikerahkan ke setiap posko pengungsian untuk merawat warga yang sakit dan luka. Sekolah sementara mulai dibuka di tenda-tenda darurat agar pendidikan anak-anak tidak terputus meskipun dalam kondisi yang terbatas. Air bersih dan listrik juga dipulihkan secara bertahap demi mendukung kehidupan warga yang masih bertahan di pengungsian. Semua upaya ini dilakukan agar saudara-saudara kita di NTT segera merasa diperhatikan, tidak merasa sendirian, dan segera bangkit kembali dari musibah yang menimpa mereka.
Dengan adanya data korban yang jelas dan bantuan yang terus disalurkan, diharapkan proses pemulihan di NTT dapat berjalan lebih terarah dan cepat. Setiap nyawa yang gugur adalah kehilangan yang sangat besar bagi keluarga dan bangsa. Semoga mereka yang telah berpuluh diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan bagi yang masih bertahan semoga senantiasa diberikan kesabaran, kekuatan, dan harapan baru. Komunikasi yang mulai terhubung kembali berkat perangkat Starlink dan bantuan logistik yang terus mengalir menjadi tanda bahwa bantuan akan terus hadir sampai warga NTT pulih sepenuhnya.

