Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, aktivitas pasar tradisional di berbagai daerah mulai menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Tidak hanya dari meningkatnya jumlah pembeli, tetapi juga dari pergerakan harga sejumlah bahan pokok yang perlahan mulai naik. Fenomena ini kembali menjadi perhatian masyarakat karena hampir setiap tahun persiapan Ramadan selalu berdampak pada dinamika harga di pasar.
Sejak beberapa pekan sebelum awal puasa, sejumlah pedagang di pasar tradisional melaporkan adanya kenaikan harga pada komoditas tertentu, terutama cabai, bawang merah, tomat, telur, minyak goreng, dan daging ayam. Peningkatan permintaan dari masyarakat yang mulai menyiapkan kebutuhan untuk sahur dan berbuka disebut menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi harga.
Di sejumlah pasar, harga cabai menjadi komoditas yang paling terasa kenaikannya. Di Pasar Barito, Ternate, misalnya, harga cabai merah keriting dilaporkan naik dari sekitar Rp40 ribu menjadi Rp80 ribu per kilogram, sementara cabai rawit melonjak dari Rp60 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram menjelang Ramadan.
Selain cabai, bawang merah dan tomat juga mengalami kenaikan yang cukup tajam. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat mulai menyesuaikan pola belanja rumah tangga mereka, terutama untuk kebutuhan dapur harian.
Di sisi lain, pemerintah pusat menyatakan bahwa secara umum stok bahan pokok nasional masih dalam kondisi aman dan distribusi terus dipercepat agar tidak terjadi lonjakan harga yang terlalu tinggi. Kementerian Perdagangan bersama sejumlah kementerian lain telah melakukan pemantauan langsung ke pasar-pasar daerah untuk memastikan pasokan tetap tersedia.
Menteri Perdagangan sebelumnya menyampaikan bahwa secara keseluruhan harga sebagian besar bahan pokok masih berada dalam kategori stabil, meskipun beberapa komoditas hortikultura memang cenderung mengalami fluktuasi musiman menjelang Ramadan. Hal ini terutama dipengaruhi oleh pola permintaan masyarakat yang meningkat secara serentak.
Fenomena kenaikan harga menjelang Ramadan sebenarnya bukan hal baru. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia juga mencatat bahwa kelompok bahan pangan bergejolak atau volatile food hampir selalu menjadi penyumbang utama inflasi pada periode menjelang Ramadan dan Idulfitri. Survei ekspektasi harga bahkan menunjukkan adanya kenaikan tekanan inflasi pada Maret 2026 yang dipicu momentum Ramadan.
Secara ekonomi, peningkatan harga ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni kenaikan permintaan dan distribusi pasokan. Menjelang Ramadan, rumah tangga cenderung meningkatkan konsumsi bahan makanan untuk persiapan menu sahur, berbuka, hingga kegiatan sosial seperti buka bersama dan pemberian santunan.
Di sisi distribusi, faktor cuaca juga ikut berperan. Pemerintah menyebut potensi gangguan cuaca ekstrem pada Februari hingga Maret dapat memengaruhi pengiriman bahan pangan dari daerah produsen ke pasar-pasar utama. Hal inilah yang membuat percepatan distribusi menjadi fokus utama pengendalian harga.
Di sejumlah daerah, pemerintah daerah mulai menggelar pasar murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai langkah antisipasi. Program ini menyediakan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, telur, dan cabai dengan harga di bawah harga pasar agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan Ramadan dengan harga terjangkau.
Aktivitas pasar pun mulai terlihat lebih ramai dibanding hari-hari biasa. Pedagang mengaku jumlah pembeli meningkat terutama untuk bahan kebutuhan pokok rumah tangga. Banyak warga mulai membeli stok lebih awal sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kenaikan harga lebih lanjut saat Ramadan resmi dimulai.
Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi fenomena tahunan yang hampir selalu terjadi. Meski demikian, kenaikan harga tetap menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Pengamat ekonomi menilai stabilitas harga pangan selama Ramadan sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan menekan inflasi musiman. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, distributor, dan pedagang menjadi kunci utama.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional juga memastikan cadangan beras nasional berada pada level aman, bahkan mencapai rekor lebih dari 3,3 juta ton pada awal tahun 2026. Hal ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga komoditas utama selama bulan puasa dan menjelang Lebaran.
Dengan persiapan Ramadan yang mulai memengaruhi harga pasar, masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang justru dapat memicu kenaikan harga lebih tinggi.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana momentum keagamaan juga memiliki dampak langsung terhadap dinamika ekonomi masyarakat sehari-hari.

